Lima Tahun Setelah Gempa, Warga Masih Bertanya: Siapa Yang Bertanggung Jawab?

Kalapanunggalupdate, Pulosari, (09/11/2025) – Waktu boleh berlalu, tapi luka akibat bencana alam tak semudah itu hilang. Begitu pula yang dirasakan warga Desa Pulosari Kecamatan Kalapanunggal dan Kabandungan, Kabupaten Sukabumi, yang hingga kini masih mengingat jelas dahsyatnya guncangan gempa tektonik berkekuatan 5,0 magnitudo yang mengguncang wilayah tersebut pada Selasa (10/3/2020).

Getaran yang terasa begitu kuat saat itu membuat puluhan rumah warga luruh lantak seketika. Dinding-dinding retak, atap runtuh, dan sebagian bangunan nyaris ambruk total. Salah satu rumah di Desa Pulosari kini masih berdiri dengan dinding retak besar membelah dari atas hingga bawah — menjadi saksi bisu dari amarah bumi yang memorak-porandakan kehidupan mereka.

Namun yang paling menyakitkan bukan hanya kehilangan harta benda, melainkan minimnya perhatian dari pemerintah. Warga menuturkan, kerugian mencapai puluhan juta rupiah, namun bantuan yang datang hanya berupa 500 biji genteng. Selebihnya? Nihil.

“Waktu itu rumah kami hancur parah, tapi bantuan cuma genteng beberapa biji. Dinding, semen, dan biaya perbaikan semua kami tanggung sendiri,” tutur salah seorang warga, mengenang masa sulit itu dengan nada getir.

Kini, lima tahun sudah berlalu, namun bayangan gempa itu masih menghantui. Banyak rumah yang belum sepenuhnya pulih, bahkan sebagian warga masih tinggal di bangunan seadanya. Pertanyaannya—siapa yang harus disalahkan? Alam yang mengguncang, atau tangan-tangan yang seharusnya sigap namun tak hadir saat rakyatnya terpuruk?

Warga hanya berharap agar kisah kelam gempa tektonik 2020 menjadi pelajaran penting bagi pemerintah dan semua pihak, bahwa bencana tak hanya meninggalkan reruntuhan, tapi juga meninggalkan luka, kenangan, dan keadilan yang belum benar-benar ditegakkan.

Reporter : WR