Kalapanunggalupdate.com, Desa Pulosari, – ( 24/11/2025 ). Peringatan Hari Guru Nasional (HGN) 2025 menjadi momentum refleksi bagi dunia pendidikan. Namun di SDN Ciseupan, Desa Pulosari, Kecamatan Kalapanunggal, Kabupaten Sukabumi, perayaan ini justru dibayang-bayangi pemandangan memilukan: bangunan sekolah yang tampak rapuh, nyaris roboh, dan belum tersentuh perbaikan sejak lima tahun terakhir.

Kondisi memprihatinkan ini bermula dari dahsyatnya guncangan gempa tektonik berkekuatan 5,0 magnitudo yang mengguncang wilayah tersebut pada Selasa (10/3/2020). Getaran kuat yang ketika itu mengejutkan warga Pulosari meninggalkan dampak serius pada infrastruktur, termasuk bangunan SDN Ciseupan yang mulai retak, amblas, dan mengalami kerusakan struktural yang signifikan.
Hingga memasuki tahun 2025, retakan pada tembok semakin melebar, lantai cor ambles di bagian belakang ruangan, saluran tanah longsor dan tergerus, serta plafon yang bolong dan nyaris terlepas. Atap sekolah tampak menggantung, sementara beberapa kusen jendela terlihat lapuk dan tidak lagi kokoh menahan terpaan cuaca. Pemandangan ini seolah menjadi saksi bisu lamanya gedung tersebut menanti tangan pemerintah untuk memberikan kepedulian.
Di tengah keterbatasan itu, para guru tetap melakukan pengabdian terbaiknya. Namun rasa was-was tidak dapat disembunyikan—setiap hari mereka berhadapan dengan risiko keselamatan yang nyata.
Kepala SDN Ciseupan, Ibu Devi Rismayanti S. Pd. I, M. Pd, mengungkapkan betapa besarnya beban yang dipikul oleh para pendidik sejak gempa tersebut terjadi.
“Gempa 10 Maret 2020 itu merusak banyak bangunan di desa kami, termasuk sekolah ini. Kami sudah berkali-kali mengajukan permohonan perbaikan, tetapi sampai saat ini belum ada tindak lanjut dari pihak terkait. Guru mengajar dengan serba kekhawatiran, sementara anak-anak tetap belajar di ruang yang kondisinya sudah tidak layak,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa momentum Hari Guru Nasional seharusnya menjadi pengingat bahwa guru juga membutuhkan dukungan nyata, bukan sekadar penghargaan simbolik.
“Kami ingin dihargai bukan hanya lewat ucapan, tetapi melalui perbaikan fasilitas, peningkatan keamanan, dan kepastian bahwa anak-anak dapat belajar dengan aman. Inilah harapan kami yang paling mendasar,” tambahnya.
Potret SDN Ciseupan di HGN 2025 ini menjadi alarm keras bagi pemerintah daerah dan pemangku kebijakan: masih banyak sekolah di pelosok yang menjerit dalam diam, menunggu kepedulian untuk kembali berdiri kokoh.
Semoga suara dari Pulosari ini didengar. Sebab pendidikan yang bermartabat hanya dapat lahir dari lingkungan sekolah yang aman dan layak bagi masa depan anak bangsa.
Kontributor : IB
Editor : WR


















