Dedi Mulyadi Ajak Generasi Z Nikah Sederhana Di KUA: “Daripada Pesta, Lebih Baik Buat DP Rumah

KALAPANUNGGALUPDATE.COM | BANDUNG – ( 16/4/2026 ).  Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, kembali menjadi sorotan publik usai pernyataannya mengenai konsep pernikahan sederhana untuk generasi muda viral di media sosial, khususnya TikTok. Dalam sebuah acara yang videonya ramai dibagikan warganet, Dedi mengajak generasi Z untuk mempertimbangkan menikah secara sederhana di Kantor Urusan Agama (KUA), lalu mengalokasikan dana pesta untuk kebutuhan masa depan, seperti uang muka rumah.

Menurut Dedi, pernikahan bukanlah ajang kemewahan semata, melainkan sebuah ibadah panjang yang dijalani seumur hidup. Karena itu, ia menilai pasangan muda sebaiknya memprioritaskan kesiapan ekonomi rumah tangga dibanding menghabiskan banyak biaya untuk pesta sehari.

“Daripada pesta, mending jadi uang muka. Nikah di KUA jadi raja selamanya,” ujar Dedi dalam video yang viral tersebut.

Pernyataan itu langsung memantik beragam reaksi dari netizen. Banyak yang mendukung gagasan tersebut karena dianggap realistis dan relevan dengan kondisi ekonomi anak muda saat ini. Harga kebutuhan pokok yang terus meningkat serta sulitnya memiliki rumah membuat saran Dedi dianggap masuk akal.

Sebagian netizen menilai, pesta pernikahan mewah sering kali hanya demi gengsi, sementara setelah menikah pasangan justru belum memiliki tempat tinggal tetap.

“Setuju, daripada habis puluhan juta buat sehari, lebih baik buat DP rumah demi masa depan,” tulis salah satu netizen di kolom komentar.

Namun di sisi lain, tidak sedikit pula yang mengkritik ajakan tersebut. Mereka menilai jika tren menikah sederhana di KUA menjadi pilihan utama, maka akan berdampak pada pelaku usaha yang menggantungkan penghasilan dari acara pernikahan, seperti jasa dekorasi, rias pengantin, katering, sound system, hingga dokumentasi.

Bagi sebagian masyarakat, pesta pernikahan bukan hanya soal kemewahan, tetapi juga menjadi sumber penghidupan banyak orang. Karena itu, wacana efisiensi biaya pernikahan dinilai perlu disikapi secara bijak agar tidak mematikan sektor usaha kecil di bidang jasa pernikahan.

Meski menuai pro dan kontra, ajakan Dedi Mulyadi dianggap membawa pesan penting bagi generasi muda: membangun rumah tangga memerlukan perencanaan matang, bukan sekadar pesta meriah. Menurutnya, kebahagiaan pernikahan tidak diukur dari megahnya resepsi, tetapi dari kesiapan pasangan menjalani kehidupan bersama setelah akad berlangsung.

Fenomena ini menunjukkan adanya perubahan pola pikir di tengah masyarakat, terutama generasi muda, bahwa pernikahan sederhana kini mulai dipandang sebagai langkah bijak demi kestabilan ekonomi rumah tangga.

Dengan viralnya pernyataan tersebut, perdebatan mengenai “nikah mewah atau investasi masa depan” pun menjadi topik hangat di media sosial. Pada akhirnya, keputusan tetap kembali kepada masing-masing pasangan: memilih pesta besar demi momen sekali seumur hidup, atau memprioritaskan kebutuhan jangka panjang demi kehidupan rumah tangga yang lebih mapan. ( RED )