Buruh Butuh Keadilan, Bukan Sekadar Regulasi: Sikap Tegas Pemuda Muslimin Indonesia Di May Day 2026

KALAPANUNGGALUPDATE.COM | JAKARTA, – ( 2/5/2026 ). Momentum peringatan Hari Buruh Internasional atau May Day 2026 menjadi panggung refleksi sekaligus seruan tegas dari Pemuda Muslimin Indonesia terhadap kondisi ketenagakerjaan nasional. Di tengah semarak peringatan yang berlangsung di berbagai daerah, isu mendasar soal keadilan bagi buruh kembali mengemuka.

Klik Gambar Ini Untuk Pasang Iklan

Dalam pernyataan resminya, Pimpinan Besar Pemuda Muslimin Indonesia menyampaikan apresiasi terhadap langkah pemerintah dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional di tengah tekanan global. Namun, mereka menegaskan bahwa capaian tersebut tidak boleh menutupi berbagai persoalan serius yang masih dihadapi kaum pekerja.

“Buruh adalah pilar utama pembangunan, bukan sekadar instrumen produksi,” tegas perwakilan organisasi. Pernyataan ini menjadi garis keras sikap mereka bahwa kebijakan ketenagakerjaan tidak boleh berhenti pada aspek administratif semata, melainkan harus benar-benar menghadirkan keadilan dan kepastian hidup.

Sorotan utama diarahkan pada sejumlah kebijakan yang dinilai masih kompromistis dan belum menyentuh akar persoalan. Mulai dari sistem pengupahan yang belum sepenuhnya menjamin kebutuhan hidup layak, praktik outsourcing yang dinilai eksploitatif, hingga lemahnya perlindungan terhadap pekerja yang terkena pemutusan hubungan kerja (PHK).

Pemuda Muslimin Indonesia juga menekankan pentingnya transparansi dalam proses penyusunan regulasi. Mereka menilai, selama ini kebijakan ketenagakerjaan kerap lahir secara elitis dan minim partisipasi publik, sehingga berpotensi menciptakan ketimpangan.

Dalam konteks nasional, seruan ini sejalan dengan pesan Ketua Umum Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia, Mohammad Jumhur Hidayat, yang disampaikan dalam sebuah forum di Jakarta Selatan. Bagi Pemuda Muslimin Indonesia, pesan tersebut merupakan alarm penting bagi seluruh elemen bangsa.

“Sudah saatnya pemuda tidak hanya menjadi penonton, tetapi tampil sebagai kekuatan moral dan sosial dalam memperjuangkan keadilan bagi buruh,” tegas Sekretaris Jenderal organisasi tersebut.

Sebagai bentuk komitmen, Pemuda Muslimin Indonesia menyatakan siap menjadi garda terdepan dalam mengawal hak-hak buruh. Mereka mengedepankan pendekatan tegas namun tetap menjunjung tinggi dialog, persatuan, dan nilai keadilan sosial.

Lebih jauh, organisasi ini mengajak seluruh elemen bangsa—khususnya generasi muda—untuk tidak apatis terhadap isu perburuhan. Mereka menilai, solidaritas sosial dan pengawalan kebijakan merupakan kunci untuk mendorong perubahan nyata.

“Keberpihakan tidak bisa setengah hati. Dibutuhkan keberanian politik dan sinergi yang jujur antara pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat,” pungkasnya.

Dengan semangat May Day 2026, seruan ini menjadi pengingat bahwa perjuangan buruh belum usai. Keadilan sosial bukan sekadar slogan, melainkan cita-cita yang harus terus diperjuangkan bersama.

Hidup Buruh! Hidup Keadilan Sosial!

( AGUS YI )