KALAPANUNGGALUPDATE.COM, Jakarta, Indonesia. — ( 6/1/2026 ). Perkembangan teknologi digital yang memasuki setiap aspek kehidupan tidak bisa dielakkan — termasuk pada anak-anak. Namun, kemudahan penggunaan handphone (smartphone) ternyata menyimpan ancaman terselubung yang kini menjadi sorotan para pakar kesehatan, terutama dokter fisiologi dan spesialis kesehatan anak.
Radiasi yang dipancarkan oleh handphone merupakan gelombang elektromagnetik yang dikenal sebagai radiofrequency (RF). Gelombang ini berbeda dengan radiasi berenergi tinggi seperti sinar-X, namun tetap menimbulkan kekhawatiran para ilmuwan karena paparan berulang dalam jangka panjang, khususnya pada anak-anak yang sedang dalam fase pertumbuhan dan perkembangan.
“Anak Lebih Rentan Menyerap Radiasi”
Menurut pendapat dokter fisiologi yang kami wawancarai, tubuh anak — terutama otak dan jaringan sarafnya — masih dalam perkembangan aktif. Struktur tengkorak yang lebih tipis dan ukuran tubuh yang lebih kecil membuat jaringan anak lebih menyerap radiasi dibandingkan orang dewasa. Hal ini menjadi salah satu alasan mengapa paparan radiasi handphone pada anak harus menjadi perhatian serius orang tua.
Apa Saja Risiko yang Dikhawatirkan?
1. Potensi Risiko Neurologis dan Kognitif
Beberapa studi ilmiah menunjukkan bahwa paparan RF pada anak dapat memengaruhi sistem saraf pusat — suatu perhatian yang muncul karena otak anak yang masih berkembang lebih mudah terpengaruh oleh medan elektromagnetik. Meskipun bukti hubungan langsung dengan penyakit spesifik masih memerlukan penelitian tambahan, para ahli menyarankan waspada terhadap potensi dampak jangka panjangnya.
2. Klasifikasi Radiasi sebagai Possible Carcinogen
Pada 2011, International Agency for Research on Cancer (IARC) yang berada di bawah World Health Organization (WHO) telah mengklasifikasikan radiasi RF sebagai Group 2B, yakni kemungkinan penyebab kanker pada manusia — termasuk potensi risiko tumor otak apabila terkena paparan berkepanjangan sejak usia dini.
3. Masalah Tidur & Perilaku Anak
Selain radiasi itu sendiri, penggunaan handphone yang berlebihan seringkali menyebabkan gangguan pola tidur — karena paparan blue light dari layar — yang kemudian berdampak pada konsentrasi, suasana hati, dan proses belajar. Ini menjadi perhatian tersendiri karena kualitas tidur yang buruk dapat menghambat perkembangan optimal anak.
Pakar Menegaskan: Bukti Masih Beragam, Namun Hati-Hati Tetap Utama
Para pakar kesehatan yang diwakili dokter fisiologi dalam pernyataannya tidak menutup fakta bahwa bukti ilmiah tentang efek radiasi handphone terhadap kesehatan jangka panjang masih beragam dan terus diteliti, bahkan oleh WHO melalui International EMF Project yang memantau efek paparan EMF pada manusia. Namun mereka tetap menekankan prinsip pencegahan karena risiko biologis pada anak dianggap lebih besar dan belum sepenuhnya dipahami.
Tips Praktis untuk Orang Tua
Sebagai langkah pencegahan sambil menunggu konsensus ilmiah yang lebih matang, dokter fisiologi merekomendasikan beberapa langkah berikut:
- Batasi durasi penggunaan handphone untuk anak, terutama pada usia balita dan sekolah dasar.
- Gunakan mode speaker atau earphone agar handphone tidak menempel langsung dekat kepala.
- Jauhkan handphone dari tubuh anak saat tidak digunakan, terutama saat tidur.
- Dorong aktivitas fisik dan interaksi sosial di luar gadget untuk keseimbangan tumbuh kembang anak.
Kesimpulan:
Walaupun hubungan langsung antara radiasi handphone dan penyakit tertentu pada anak belum dinyatakan secara definitif oleh lembaga kesehatan global seperti WHO, para dokter fisiologi menilai bahwa anak lebih rentan terhadap paparan radiasi ini. Oleh karena itu, tindakan pencegahan dini menjadi kunci untuk mendukung kesehatan dan tumbuh kembang optimal anak di era digital.
KREATIF : TIM REDAKSI SUMBER : BERBAGAI SUMBER


















