Kalapanunggalupdate.com, ( 26/9/ 2025 ) – Di tengah derasnya arus modernisasi, masyarakat masih menjaga kearifan lokal berupa tradisi Ngaramat, sebuah adat kebiasaan turun-temurun yang dilaksanakan ketika menjelang pelaksanaan pernikahan. Tradisi ini ditandai dengan pembacaan Kitab Manaqib karya besar tentang perjalanan spiritual Syekh Abdul Qadir Jailani, seorang ulama sufi yang sangat dihormati di dunia Islam.

Acara Ngaramat biasanya dilakukan di rumah calon pengantin, dengan melibatkan keluarga besar, tetangga, dan tokoh agama setempat. Suasana kebersamaan tampak hangat, diiringi dengan doa bersama agar hajatan pernikahan berjalan lancar, penuh keberkahan, dan diridhoi oleh Allah SWT.

Salah satu ciri khas dari tradisi ini adalah penyajian aneka hidangan khas kampung, mulai dari nasi, telur rebus, ayam panggang, aneka sayur, hingga kue-kue tradisional yang disusun rapi di atas meja. Hidangan tersebut tidak hanya sebagai jamuan, melainkan juga memiliki makna simbolik: doa, syukur, dan harapan baik untuk pasangan pengantin yang akan mengarungi kehidupan baru.
Menurut para sesepuh, Ngaramat bukan sekadar membaca kitab, tetapi juga wujud penghormatan terhadap leluhur dan ulama terdahulu. Melalui pembacaan Maqib, masyarakat diingatkan kembali akan nilai-nilai kesabaran, ketawadhuan, dan keberkahan hidup.
Tradisi ini hingga kini masih berlaku kuat dan seakan menjadi kebiasaan di Kampung Cigoong, Desa Pulosari, Kecamatan Kalapanunggal. Setiap keluarga yang akan melangsungkan pernikahan senantiasa melaksanakan Ngaramat sebagai bentuk penghormatan adat, sekaligus doa bersama demi kelancaran hajat.
Menariknya, tradisi Ngaramat tidak hanya dilaksanakan menjelang pernikahan. Masyarakat setempat juga mengamalkannya pada berbagai momen penting, seperti ketika akan menuai padi, menanam padi, hingga menanam sayuran di kebun. Semua ini dilandasi keyakinan bahwa doa bersama melalui pembacaan Maqib mampu menghadirkan keberkahan, kelancaran, serta perlindungan dari segala halangan.
Selain memperkuat spiritualitas dan keyakinan masyarakat, Ngaramat juga mempererat silaturahmi antarwarga, karena seluruh prosesi dilaksanakan secara gotong royong dengan penuh keikhlasan.
Dengan tetap terjaganya tradisi Ngaramat di tengah masyarakat, generasi muda diharapkan dapat terus mengenal dan melestarikan warisan budaya leluhur yang sarat makna, sehingga adat kebiasaan ini tidak hilang ditelan zaman, tetapi tetap hidup sebagai identitas dan kebanggaan masyarakat. ( WR )


















