KALAPANUNGGALUPDATE.COM | RELIGI – ( 8/2/2026 ). Menjelang datangnya bulan suci Ramadhan, masyarakat di berbagai daerah kembali melaksanakan tradisi nyekar atau ziarah kubur. Tradisi yang telah mengakar kuat dalam budaya masyarakat ini dilakukan dengan mengunjungi makam orang tua, keluarga, maupun para leluhur, sebagai bentuk doa, penghormatan, sekaligus pengingat akan kematian.
Pantauan di sejumlah pemakaman umum menunjukkan peningkatan aktivitas peziarah sejak beberapa hari terakhir. Warga datang secara bergelombang, membawa bunga tabur, air, serta melantunkan doa-doa dan ayat suci Al-Qur’an. Momentum ini dimanfaatkan sebagai sarana membersihkan makam, mempererat silaturahmi keluarga, serta mempersiapkan hati menyambut Ramadhan dengan penuh kesadaran spiritual.
Dalam perspektif Islam, ziarah kubur bukan sekadar tradisi, melainkan amalan yang memiliki dasar kuat dalam sunnah Nabi Muhammad ﷺ. Rasulullah ﷺ bersabda:
“Dahulu aku melarang kalian berziarah kubur, maka sekarang berziarahlah, karena ziarah kubur dapat mengingatkan kalian kepada akhirat.”
(HR. Muslim No. 977)
Hadits tersebut menegaskan bahwa ziarah kubur dianjurkan karena mampu menumbuhkan kesadaran akan kehidupan setelah kematian, sehingga mendorong umat Islam untuk memperbaiki diri dan meningkatkan ketakwaan.
Selain itu, Rasulullah ﷺ juga mengajarkan adab dan doa ketika berziarah kubur. Dalam hadits lain disebutkan:
“Assalāmu‘alaikum ahlad-diyāri minal mu’minīna wal muslimīn, wa innā insyāAllāhu bikum lāhiqūn.”
Artinya: “Semoga keselamatan tercurah kepada penghuni kubur dari kaum mukminin dan muslimin. Sesungguhnya kami, insya Allah, akan menyusul kalian.”
(HR. Muslim No. 975)
Para ulama menegaskan bahwa ziarah kubur menjelang Ramadhan diperbolehkan selama tidak disertai perbuatan yang bertentangan dengan syariat, seperti meminta kepada selain Allah atau melakukan ritual yang mengarah pada kemusyrikan. Esensi utama ziarah adalah mendoakan ahli kubur dan mengambil pelajaran bagi yang masih hidup.
Dengan tradisi nyekar ini, masyarakat berharap dapat memasuki bulan Ramadhan dengan hati yang lebih bersih, niat yang lurus, serta semangat memperbanyak amal ibadah. Tradisi ini menjadi pengingat bahwa Ramadhan bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga, tetapi juga momentum memperkuat keimanan dan memperbaiki hubungan dengan Allah SWT serta sesama manusia.
( Kreatif : TIM REDAKSI )


















