Digitalisasi Masih Mencari Logo, Panitia Hari Jadi Takalar Dinilai Gagal Kelola Momentum

KALAPANUNGGALUPDATE.COM | Takalar, 3 Februari 2026 — Menjelang peringatan Hari Jadi ke-66 Kabupaten Takalar yang dijadwalkan berlangsung pada 10 Februari 2026, publik justru disuguhi ironi yang sulit dicerna. Hingga H-7 jelang acara puncak, logo dan tema resmi Hari Jadi Takalar belum juga diumumkan ke ruang publik.

Klik Gambar Ini Untuk Pasang Iklan

Kondisi ini menimbulkan tanda tanya besar, terlebih di tengah gencarnya Pemerintah Daerah Kabupaten Takalar mengampanyekan visi digitalisasi sebagai wajah baru tata kelola pemerintahan. Di era keterbukaan informasi dan kecepatan digital, keterlambatan pengumuman elemen paling mendasar justru terasa seperti langkah mundur—seolah masyarakat masih harus menunggu kabar lewat surat pos ala dekade 90-an.

Sorotan tajam datang dari Ketua I Pengurus Besar Serikat Pelajar Muslimin Indonesia (PB SEPMI), Muhammad Asmin Rahman, yang juga merupakan mahasiswa Universitas Negeri Makassar (UNM). Ia menilai keterlambatan tersebut mencerminkan ketidaksinkronan serius antara visi yang digaungkan dan praktik di lapangan.

“Jika digitalisasi dijadikan wajah baru Pemerintah Daerah, maka perencanaan dan publikasi agenda besar seperti Hari Jadi seharusnya sudah bisa diakses publik jauh hari sebelumnya. Bukan justru menjadi misteri hingga H-7,” tegas Asmin.

Kritik tersebut secara langsung diarahkan kepada Ketua Panitia Pelaksana Hari Jadi ke-66 Kabupaten Takalar, Achmad Rivai, yang dinilai belum mampu memastikan kesiapan unsur paling fundamental dalam sebuah perayaan daerah. Menurut Asmin, logo dan tema bukan sekadar ornamen visual, melainkan identitas, pesan, sekaligus arah besar perayaan.

“Sulit membangun semangat partisipasi masyarakat jika tema perayaannya saja belum diketahui. Apalagi jika kita bicara soal branding daerah di era digital,” lanjutnya.

Lebih jauh, Asmin menegaskan bahwa persoalan ini tidak bisa dipandang sebagai masalah teknis semata. Ia menilai hal tersebut menyentuh esensi keseriusan pemerintah dalam menerjemahkan visi digitalisasi ke dalam kerja nyata. Digitalisasi, kata dia, tidak cukup berhenti pada jargon pidato atau dokumen perencanaan, melainkan harus tercermin dalam kecepatan kerja, keterbukaan informasi, dan manajemen waktu yang profesional.

Asmin pun mendesak agar Pemerintah Daerah bersama Panitia Pelaksana segera melakukan peluncuran logo dan tema Hari Jadi secara terbuka, sekaligus menjadikan polemik ini sebagai bahan refleksi bersama.

Apakah digitalisasi di Kabupaten Takalar benar-benar telah berjalan, atau masih sebatas slogan tanpa substansi—pertanyaan ini kini menggantung, menunggu jawaban nyata dari para pemangku kebijakan.

( Reporter : Agus YI  Editor : WR )