Produksi Beras Nasional 2026 Diprediksi Turun 1,59 Juta Ton, BPS Ungkap Penyusutan Luas Panen Jadi Pemicu

KALAPANUNGGALUPDATE.COM | INDONESIA, Senin, 2 November 2026 — Produksi beras nasional pada 2026 diperkirakan mengalami penurunan cukup signifikan. Badan Pusat Statistik (BPS) memproyeksikan produksi beras Indonesia sepanjang Januari hingga Desember 2026 mencapai 33,11 juta ton atau turun sekitar 1,59 juta ton (4,57%) dibandingkan periode yang sama pada 2025.

Penurunan tersebut menjadi perhatian di tengah meningkatnya tantangan ketahanan pangan global. Berkurangnya produksi beras nasional tidak terlepas dari menyusutnya luas panen padi serta perubahan kondisi pertanaman di sejumlah wilayah Indonesia.

Berdasarkan hasil Pengamatan Kerangka Sampel Area (KSA) September 2026, Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, menjelaskan bahwa penurunan produksi beras sejalan dengan proyeksi produksi padi yang juga diperkirakan lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya.

Secara bulanan, produksi beras pada September 2026 diperkirakan mencapai 2,81 juta ton. Angka tersebut turun 18,25% dibandingkan September 2025 yang mencapai 3,44 juta ton.

Sementara itu, produksi beras sepanjang Januari hingga September 2026 diperkirakan mencapai 28,10 juta ton atau turun 2,12% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Bahkan, untuk periode Oktober hingga Desember 2026, BPS memperkirakan produksi beras hanya mencapai 5,01 juta ton. Jumlah tersebut mengalami penurunan 16,32% atau sekitar 980 ribu ton dibandingkan periode yang sama pada 2025.

Sejalan dengan kondisi tersebut, produksi padi dalam bentuk gabah kering giling (GKG) sepanjang 2026 diperkirakan mencapai 57,45 juta ton. Angka ini turun 4,57% atau sekitar 2,75 juta ton dibandingkan tahun sebelumnya.

Penyusutan Luas Panen Jadi Faktor Utama

Salah satu faktor penting yang memengaruhi penurunan produksi beras adalah menyusutnya luas panen padi nasional.

BPS memperkirakan luas panen padi sepanjang 2026 mencapai 10,78 juta hektare atau turun 4,80% dibandingkan tahun sebelumnya.

Pada September 2026, luas panen tercatat sekitar 0,91 juta hektare, turun 19,40% dibandingkan September 2025 yang mencapai 1,13 juta hektare.

Adapun luas panen sepanjang Januari hingga September 2026 mencapai 9,24 juta hektare atau turun 2,23%. Sementara itu, potensi luas panen pada Oktober hingga Desember 2026 diperkirakan hanya 1,54 juta hektare, menyusut 17,75% atau sekitar 330 ribu hektare dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Kondisi pertanaman pada September 2026 juga menunjukkan perubahan yang perlu menjadi perhatian. BPS mencatat mayoritas lahan pertanian justru sedang ditanami komoditas selain padi dengan proporsi mencapai 34,81%.

Sementara itu, lahan yang berada dalam fase standing crop atau sedang ditanami padi hanya mencapai 20%. Adapun lahan yang sedang diberakan atau tidak ditanami mencapai 25,74%, lahan yang telah dipanen 11,74%, dan lahan dalam tahap persiapan mencapai 6,94%.

Ateng menjelaskan, pada September 2026 terjadi penurunan proporsi luas lahan yang sedang ditanami padi dibandingkan Agustus 2026 maupun September 2025.

Menurutnya, berkurangnya proporsi standing crop menunjukkan lebih rendahnya luas pertanaman padi yang berada dalam fase vegetatif awal, vegetatif akhir, hingga generatif. Kondisi tersebut berpotensi memengaruhi luas panen dalam tiga bulan berikutnya.

Jawa Barat, Jawa Timur, dan Jawa Tengah Masih Jadi Sentra Potensi Panen

Di tengah proyeksi penurunan produksi, sejumlah wilayah masih memiliki potensi panen padi cukup besar pada periode Oktober hingga Desember 2026.

BPS mencatat potensi panen terbesar masih terkonsentrasi di Pulau Jawa, terutama Jawa Barat, Jawa Timur, dan Jawa Tengah.

Di Jawa Barat, sejumlah daerah yang memiliki potensi panen besar antara lain Kabupaten Indramayu, Subang, Karawang, Bekasi, dan Cirebon.

Sementara di Jawa Tengah, potensi panen berada di Kabupaten Sragen dan Pemalang. Adapun di Jawa Timur meliputi Ngawi, Banyuwangi, Ponorogo, Jember, dan Lumajang.

Di luar Pulau Jawa, potensi panen tersebar di Sumatra Utara, Lampung, Aceh, Sumatra Barat, dan Sumatra Selatan. Untuk wilayah Sulawesi, potensi panen berada di Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tengah. Sementara di Kalimantan terkonsentrasi di Kalimantan Selatan, serta wilayah Nusa Tenggara Timur dan Nusa Tenggara Barat.

Ancaman Hama, Banjir, dan Kekeringan Masih Membayangi

BPS mengingatkan bahwa angka potensi luas panen dan produksi beras tersebut masih dapat berubah mengikuti perkembangan kondisi pertanaman di lapangan.

Sejumlah faktor yang dapat memengaruhi realisasi produksi antara lain serangan hama atau organisme pengganggu tanaman (OPT), banjir, kekeringan, hingga perubahan waktu pelaksanaan panen oleh petani.

Karena itu, perkembangan kondisi pertanian selama Oktober hingga Desember 2026 menjadi faktor penting dalam menentukan capaian produksi beras nasional pada akhir tahun.

Proyeksi ini menjadi pengingat bahwa ketahanan pangan tidak cukup hanya mengandalkan ketersediaan stok, tetapi juga membutuhkan perlindungan lahan pertanian, kepastian musim tanam, pengendalian hama, serta dukungan nyata terhadap produktivitas petani.

Di tengah tantangan tersebut, menjaga stabilitas produksi dan distribusi beras menjadi pekerjaan penting agar kebutuhan pangan masyarakat tetap terpenuhi.

 

Sumber: Badan Pusat Statistik (BPS) RI dan Bisnis.com.

Penulis: IB

Editor: AYI

Jangan Lupa Baca Berita Selanjutnya

RAPIMPURCAM Rampung, KNPI Kalapanunggal Masuki Babak Verifikasi dan Pergantian Kepemimpinan

Baca Sekarang →
error: Mohon Maaf Tidak Bisa Di Salin ( COPAS ) !!