Pendidikan Indonesia Di Persimpangan Zaman: Menentukan Nasib Indonesia Emas 2045

KALAPANUNGGALUPDATE.COM| Jakarta, 3 Juni 2026 – Di tengah ambisi besar mewujudkan Indonesia Emas 2045, sektor pendidikan kembali menjadi sorotan utama sebagai penentu arah masa depan bangsa. Berbagai program pembangunan pendidikan terus digulirkan pemerintah, mulai dari renovasi sekolah hingga pengembangan program Sekolah Rakyat. Namun, tantangan yang dihadapi dunia pendidikan nasional masih cukup kompleks, mulai dari persoalan integritas, pemerataan kualitas pendidikan, hingga kesiapan menghadapi era transformasi digital dan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI).
Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Serikat Pelajar Muslimin Indonesia (PB SEPMI), Reza Firdaus, menegaskan bahwa pendidikan Indonesia saat ini berada pada titik krusial yang akan menentukan kualitas generasi penerus bangsa dalam dua dekade mendatang.
Menurut Reza, pendidikan tidak lagi hanya berbicara mengenai akses terhadap sekolah atau tingginya angka partisipasi pendidikan. Lebih dari itu, kualitas pembelajaran, relevansi kurikulum terhadap perkembangan zaman, serta pembentukan karakter peserta didik harus menjadi fokus utama.
“Pendidikan hari ini tidak lagi hanya berbicara tentang akses sekolah atau angka partisipasi pendidikan. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana memastikan setiap pelajar Indonesia memperoleh pendidikan yang berkualitas, relevan dengan perkembangan zaman, dan mampu membentuk karakter serta daya saing generasi muda,” ujar Reza Firdaus.
Ia mengapresiasi langkah pemerintah yang menargetkan renovasi puluhan ribu sekolah di berbagai daerah serta pengembangan program Sekolah Rakyat sebagai upaya memperluas akses pendidikan. Namun, menurutnya pembangunan infrastruktur pendidikan harus dibarengi dengan peningkatan kualitas tenaga pendidik, sistem pembelajaran, serta tata kelola yang transparan dan akuntabel.
“Setiap rupiah anggaran pendidikan adalah investasi masa depan bangsa. Karena itu, integritas dalam pengelolaan pendidikan bukan sekadar tuntutan administratif, melainkan kebutuhan mendasar untuk memastikan hak-hak pelajar terpenuhi secara optimal,” tambahnya.
Selain persoalan tata kelola, ketimpangan kualitas pendidikan antarwilayah masih menjadi pekerjaan rumah yang belum terselesaikan. Di sejumlah daerah, pelajar masih menghadapi keterbatasan fasilitas belajar, minimnya akses internet, hingga kurangnya sarana dan prasarana pendidikan yang memadai.
Reza menilai bahwa kualitas pendidikan tidak boleh ditentukan oleh faktor geografis maupun kondisi daerah tempat seorang anak dilahirkan. Negara, kata dia, memiliki tanggung jawab untuk memastikan seluruh anak Indonesia memperoleh kesempatan yang sama dalam mengakses pendidikan yang layak dan berkualitas.
“Kualitas pendidikan seorang anak tidak boleh ditentukan oleh tempat ia dilahirkan. Negara harus memastikan bahwa seluruh anak Indonesia memiliki kesempatan yang sama untuk memperoleh pendidikan yang layak dan berkualitas,” tegasnya.
Di sisi lain, pesatnya perkembangan teknologi AI menghadirkan tantangan sekaligus peluang besar bagi dunia pendidikan. Transformasi digital yang terjadi saat ini menuntut sistem pendidikan untuk mampu beradaptasi dan mempersiapkan peserta didik menghadapi perubahan dunia kerja serta perkembangan teknologi masa depan.
Menurut Reza, pendidikan Indonesia harus mampu melahirkan generasi yang tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga mampu menciptakan inovasi dan solusi bagi berbagai persoalan bangsa.
“Kita tidak bisa menghentikan perkembangan teknologi. Yang harus dilakukan adalah menyiapkan pelajar Indonesia agar mampu menjadi pelaku dan pencipta inovasi, bukan sekadar pengguna teknologi. Kemampuan berpikir kritis, kreativitas, kepemimpinan, dan etika harus menjadi keunggulan generasi muda Indonesia di era AI,” ujarnya.
PB SEPMI memandang terdapat tiga agenda strategis yang harus menjadi perhatian bersama dalam pembangunan pendidikan nasional, yakni memperkuat integritas pendidikan, mempercepat pemerataan kualitas pendidikan, serta meningkatkan kesiapan generasi muda dalam menghadapi transformasi digital.
Reza menegaskan bahwa bonus demografi yang dimiliki Indonesia tidak akan secara otomatis membawa bangsa menuju kemajuan apabila tidak didukung oleh kualitas pendidikan yang baik.
“Indonesia Emas 2045 tidak akan lahir dari bonus demografi semata. Indonesia Emas akan lahir dari pendidikan yang mampu mencetak generasi unggul, berkarakter, dan memiliki daya saing global. Karena itu, membenahi pendidikan hari ini sama artinya dengan mempersiapkan masa depan bangsa,” tutup Reza Firdaus.
Dengan waktu kurang dari dua dekade menuju tahun 2045, berbagai kalangan menilai bahwa reformasi pendidikan harus menjadi prioritas nasional. Keberhasilan Indonesia dalam mencetak generasi yang cerdas, berintegritas, adaptif terhadap teknologi, serta memiliki karakter kebangsaan yang kuat akan menjadi kunci utama dalam mewujudkan cita-cita besar Indonesia sebagai negara maju dan berdaya saing global. (  AGUS YI )