Kemarau Panjang Mengancam Musim Tanam, Sejumlah POKTAN Di Kalapanunggal Tak Bisa Olah Lahan Pasca Panen

KALAPANUNGGALUPDATE.COM | Kalapanunggal  —  ( 28/8/2026 ). Kemarau panjang mulai memberikan dampak nyata terhadap aktivitas pertanian di sejumlah wilayah Kecamatan Kalapanunggal, Kabupaten Sukabumi. Setelah sebagian besar lahan sawah melaksanakan panen secara serempak pada Agustus 2026, sejumlah kelompok tani kini menghadapi persoalan baru: lahan belum dapat kembali diolah dan ditanami akibat terbatasnya pasokan air.

Kondisi debit air yang diduga terus mengecil membuat petani harus menunda proses pengolahan tanah. Sawah yang seharusnya segera memasuki masa tanam berikutnya kini masih menunggu ketersediaan air yang cukup.

Bagi para petani, situasi tersebut bukan sekadar persoalan menunda aktivitas di sawah. Jika kondisi kemarau dan keterbatasan air berlangsung lebih lama, jadwal musim tanam berikutnya berpotensi ikut mundur, sehingga dapat berdampak terhadap produktivitas pertanian masyarakat.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, sejumlah blok sawah atau kelompok tani yang telah panen namun terkendala untuk kembali mengolah lahan dan melakukan penanaman tersebar di beberapa desa di Kecamatan Kalapanunggal.

Berikut wilayah yang dilaporkan terdampak:

Desa Kadununggal

1. Silih Asuh

2. Sugih Mukti

3. Sindang Sari

Desa Makasari

1. Kadupugur

Desa Gunung Endut

1. Sinar Harapan

2. Sinar Rejeki

Desa Kalapanunggal

1. Barokah Tani II

2. Barokah Tani III

3. Berkah Sari (atas jalan)

Desa Palasarigirang

1. Alam Raya

2. Barokah Tani

Desa Walangsari

1. Tunas Mekar

2. Jaya Mekar

Desa Pulosari

1. Pasir Pari

2. Bhumi Makmur (sebagian)

3. Sawarga (sebagian)

4. Remaja Mandiri (sebagian)

Situasi ini menjadi perhatian karena masa setelah panen biasanya menjadi momentum penting bagi petani untuk segera mempersiapkan lahan menghadapi musim tanam berikutnya.

Namun, kondisi di lapangan membuat sebagian petani harus menunggu. Tanah sudah menunggu diolah, tetapi air menjadi persoalan utama.

Kemarau yang berkepanjangan dan debit air yang kecil diduga menjadi faktor yang menyebabkan proses pengolahan lahan belum dapat dilakukan secara maksimal di sejumlah lokasi.

Petani pun berharap kondisi tersebut segera mendapatkan perhatian dari pihak terkait, khususnya dalam upaya memastikan ketersediaan atau pengelolaan sumber air bagi lahan pertanian masyarakat.

Pasalnya, apabila keterbatasan air terus berlangsung, bukan hanya aktivitas tanam yang terhambat, tetapi juga ketahanan produksi pangan dan keberlangsungan ekonomi petani dapat ikut terdampak.

Hingga saat ini, kondisi di masing-masing blok sawah disebut tidak seluruhnya sama. Sebagian wilayah terdampak secara keseluruhan, sementara beberapa kelompok tani di Desa Pulosari dilaporkan hanya mengalami kondisi tersebut pada sebagian lahan.

Kemarau panjang kini bukan lagi sekadar soal panas dan kekeringan. Bagi petani Kalapanunggal, air menentukan apakah lahan yang baru saja dipanen bisa kembali menghasilkan atau harus menunggu lebih lama.

Catatan: Data wilayah berdasarkan informasi yang disampaikan di lapangan. Kondisi debit air dan tingkat dampak pada masing-masing blok sawah perlu dikonfirmasi lebih lanjut kepada kelompok tani dan instansi pertanian terkait. ( RED )

 

TIM REDAKSI KALAPANUNGGAL UPDATE

Sumber: Informasi lapangan / berbagai sumber

error: Mohon Maaf Tidak Bisa Di Salin ( COPAS ) !!