Ulama Rela Berjalan Tanpa Alas Kaki demi Ilmu, Sebuah Tamparan bagi Kita yang Mudah Bosan Belajar Agama

KALAPANUNGGALUPDATE.COM | OPINI, 3 November 2026 — Perjuangan menuntut ilmu bukanlah perjalanan yang selalu mudah. Dibutuhkan pengorbanan, kesabaran, keikhlasan, dan kecintaan yang kuat agar seseorang mampu bertahan dalam proses belajar. Hal inilah yang tercermin dari kisah para ulama terdahulu dalam mencari ilmu agama.

Salah satu kisah inspiratif datang dari Ibnu Thahir rahimahullah. Dikisahkan, sebagaimana Abu Hatim, beliau terbiasa menempuh perjalanan jauh dengan berjalan kaki tanpa alas kaki. Keterbatasan ekonomi membuatnya tidak mampu membeli sandal sekalipun.

Dalam perjalanan melintasi gurun pasir yang panas, kondisi tersebut bahkan dikisahkan menyebabkan beliau mengalami kencing darah sebanyak dua kali, yakni ketika berada di Baghdad dan Makkah.

Kisah tersebut mengundang sebuah pertanyaan: apakah para ulama terdahulu tidak merasakan sakit dan penderitaan selama menjalani perjuangan menuntut ilmu?

Secara fisik, tentu mereka merasakan sakit. Namun, besarnya kecintaan terhadap ilmu membuat penderitaan itu seolah terbayar oleh kenikmatan batin yang mereka rasakan. Mereka menikmati proses perjuangan karena memahami betapa berharganya ilmu yang sedang dicari.

Para ulama terdahulu mencintai ilmu dengan sepenuh hati. Mereka rela mengorbankan waktu, tenaga, harta, bahkan kenyamanan hidup demi mendapatkan ilmu. Seluruh umur mereka manfaatkan untuk belajar, memahami, dan mengamalkan pengetahuan.

Lantas, bagaimana dengan kehidupan kita saat ini?

Tidak sedikit di antara kita yang justru menjadikan belajar agama sebagai beban. Lebih bersemangat bermain bola daripada menghafal Al-Qur’an, lebih nyaman menghabiskan waktu dengan telepon genggam daripada menghadiri majelis ilmu.

Membaca komik dan buku cerita bisa dilakukan berjam-jam tanpa merasa bosan. Namun, membaca beberapa halaman Al-Qur’an saja terkadang sudah terasa berat.

Kondisi ini seharusnya menjadi bahan introspeksi. Jangan sampai kita lebih mencintai hiburan sesaat daripada ilmu yang menjadi bekal kehidupan dunia dan akhirat.

Adab Menjadi Fondasi dalam Menuntut Ilmu

Dari perjuangan para ulama terdahulu, kita dapat memahami mengapa mereka sangat menekankan pentingnya mempelajari adab sebelum ilmu.

Sebab, hal pertama yang harus dipersiapkan dalam menuntut ilmu bukan hanya kecerdasan akal, melainkan juga kesiapan hati. Hati harus dibangun dengan keikhlasan, kesabaran, kecintaan, serta penghormatan terhadap ilmu dan orang-orang yang mengajarkannya.

Ilmu tidak cukup hanya diketahui, tetapi harus dihormati, diamalkan, dan dijadikan pedoman dalam kehidupan.

Inilah pelajaran penting bagi generasi saat ini. Jangan hanya mengejar banyaknya pengetahuan, tetapi lupakan adab. Jangan hanya ingin menjadi pintar, tetapi enggan memperbaiki sikap dan perilaku.

Sebab, ilmu membutuhkan kesungguhan untuk mendapatkannya, adab untuk menjaganya, dan pengamalan untuk membuktikan manfaatnya.

Kisah para ulama terdahulu mengingatkan kita bahwa kemuliaan ilmu tidak diperoleh dengan kemalasan. Ada perjuangan panjang, pengorbanan, dan ketulusan yang harus dilalui.

Diringkas dari khutbah Jumat berjudul “Menuntut Ilmu Agama Perlu Pengorbanan” oleh Ustaz Abdullah Zain, Lc., M.A.

 

Penulis: Abu Ammar Yasir Al Kalimantani

Penyunting: Iwan Baskara

Editor: AYI

Jangan Lupa Baca Berita Selanjutnya

Pemdes Cipeteuy Tingkatkan Kapasitas Kader Posyandu, Wujudkan Layanan Kesehatan Desa Yang Lebih Berkualitas

Baca Sekarang →
error: Mohon Maaf Tidak Bisa Di Salin ( COPAS ) !!