KALAPANUNGGALUPDATE.COM | Kalapanunggal — ( 11/8/2026 ). Setiap memasuki penghujung bulan Safar, sebagian masyarakat Muslim di Nusantara kembali mengenal sebuah tradisi yang telah berlangsung turun-temurun, yakni Rebo Wekasan atau Rabu terakhir di bulan Safar.

Hari tersebut kerap dikaitkan dengan berbagai keyakinan mengenai turunnya bala, penyakit, musibah, maupun bencana. Salah satu angka yang paling sering disebut dalam sejumlah literatur keagamaan adalah 320.000 bala atau malapetaka yang diyakini turun ke bumi pada Rabu terakhir bulan Safar.
Namun, benarkah demikian menurut ajaran Islam?
Dari Mana Angka 320.000 Bala Berasal?
Dalam sebagian literatur dan tradisi keagamaan, disebutkan bahwa pada Rabu terakhir bulan Safar terdapat sejumlah besar bala yang turun ke bumi.
Salah satu sumber yang sering dikutip adalah kitab Kanzun Najah Was-Surur karya Syekh Abdul Hamid Quds, yang menyebut adanya 320.000 bala yang turun pada Rabu terakhir bulan Safar.
Selain angka tersebut, terdapat pula literatur lain yang menyebut jumlah berbeda, seperti 3.333 jenis penyakit maupun 120.000 bala.
Perbedaan angka tersebut menunjukkan bahwa informasi mengenai jumlah bala dalam tradisi Rebo Wekasan berasal dari literatur dan penuturan yang beragam, bukan dari satu angka yang disepakati berdasarkan dalil Al-Qur’an dan hadis sahih.
Rebo Wekasan dan Tradisi Masyarakat Nusantara
Di berbagai daerah di Indonesia, Rebo Wekasan berkembang menjadi tradisi keagamaan dan budaya masyarakat.
Sebagian masyarakat mengisinya dengan kegiatan seperti berdoa, memperbanyak istighfar, bersedekah, membaca Al-Qur’an, melaksanakan salat sunnah mutlak, serta memanjatkan doa tolak bala.
Tujuan dari berbagai amalan tersebut pada dasarnya adalah memohon perlindungan kepada Allah SWT dari segala bentuk keburukan dan musibah.
Tradisi tersebut juga menjadi momentum bagi sebagian masyarakat untuk melakukan introspeksi diri, memperbanyak ibadah, serta mempererat hubungan sosial melalui kegiatan keagamaan dan sedekah.
Tetapi, Apakah Rabu Terakhir Safar Benar-Benar Hari Turunnya Bala?
Di sinilah pentingnya membedakan antara tradisi yang berkembang di tengah masyarakat dengan ketetapan yang memiliki dasar kuat dalam syariat.
Keyakinan bahwa Rabu terakhir bulan Safar merupakan hari khusus ketika Allah SWT menurunkan bala atau kesialan dalam jumlah tertentu tidak memiliki dasar yang sahih dari Al-Qur’an maupun hadis Nabi Muhammad SAW.
Rasulullah SAW juga telah membantah keyakinan jahiliah yang menganggap bulan Safar membawa kesialan.
Dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim disebutkan bahwa tidak ada kesialan yang melekat pada bulan Safar.
Dengan demikian, seorang Muslim tidak semestinya meyakini bahwa bulan Safar, atau khususnya Rabu terakhirnya, secara otomatis menjadi hari yang membawa bencana.
Jangan Takut kepada Hari, Tetapi Dekatlah kepada Allah
Islam mengajarkan bahwa segala sesuatu yang terjadi di alam semesta berada dalam ketetapan dan kehendak Allah SWT.
Sehat dan sakit, keselamatan dan musibah, rezeki maupun ujian tidak ditentukan oleh hari tertentu semata.
Karena itu, Rebo Wekasan sebaiknya tidak dijadikan alasan untuk menumbuhkan rasa takut berlebihan atau meyakini adanya hari yang secara mutlak membawa kesialan.
Sebaliknya, momentum tersebut dapat dimanfaatkan untuk memperbanyak doa, istighfar, sedekah, membaca Al-Qur’an, memperbaiki hubungan dengan sesama, serta meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT.
Amalan Tolak Bala yang Bersifat Umum
Memohon perlindungan dari Allah SWT merupakan bagian dari ajaran Islam. Seorang Muslim dapat memperbanyak doa dan ibadah kapan pun, tanpa harus meyakini bahwa hanya Rabu terakhir Safar yang menjadi waktu khusus untuk menghindari bala.
Beberapa amalan umum yang dapat dilakukan antara lain:
- Memperbanyak istighfar dan zikir.
- Berdoa memohon keselamatan dan perlindungan kepada Allah SWT.
- Memperbanyak sedekah.
- Membaca Al-Qur’an.
- Melaksanakan salat sunnah secara umum.
- Memperbanyak amal kebajikan.
- Menjauhi perbuatan maksiat dan memperbaiki diri.
Yang terpenting, semua amalan tersebut dilakukan sebagai bentuk ibadah dan ikhtiar kepada Allah SWT, bukan karena keyakinan bahwa hari tertentu pasti membawa kesialan.
Antara Menghormati Tradisi dan Menjaga Akidah
Rebo Wekasan merupakan bagian dari tradisi yang telah dikenal luas di berbagai wilayah Nusantara. Tradisi tersebut memiliki nilai sosial dan keagamaan bagi sebagian masyarakat.
Namun, tradisi tetap perlu ditempatkan secara proporsional.
Menghormati tradisi tidak berarti harus meyakini semua klaim yang berkembang di dalamnya sebagai ketentuan agama.
Jika masyarakat mengisi Rabu terakhir Safar dengan doa, sedekah, istighfar dan amal kebajikan, hal tersebut dapat menjadi momentum positif selama tidak disertai keyakinan bahwa hari tersebut secara pasti merupakan hari turunnya kesialan atau bala berdasarkan ketetapan syariat yang sahih.
Kesimpulan
Angka 320.000 bala pada Rabu terakhir bulan Safar memang disebut dalam sebagian literatur dan menjadi bagian dari narasi tradisi Rebo Wekasan. Namun, angka tersebut tidak dapat diposisikan sebagai fakta yang ditetapkan secara sahih oleh Al-Qur’an atau hadis Nabi Muhammad SAW.
Islam justru mengajarkan umatnya untuk tidak menganggap waktu atau bulan tertentu sebagai sumber kesialan.
Maka, memasuki penghujung Safar dapat menjadi kesempatan untuk semakin mendekatkan diri kepada Allah SWT: memperbanyak doa, istighfar, sedekah, ibadah dan amal kebajikan, sembari tetap menjaga keyakinan bahwa segala sesuatu berada dalam kekuasaan dan ketetapan Allah SWT.
Rebo Wekasan bukan waktunya untuk takut berlebihan. Jadikan ia momentum untuk memperbaiki diri dan semakin mendekat kepada Sang Pencipta.
KALAPANUNGGAL UPDATE
Independent, Terkini, Berimbang, Transparan
Dari Desa Untuk Dunia
( Red )



















